Oleh : Menkher Manjas (Ketua IDI Wilayah Sumbar)
Kursi di teras depan rumah itu, seakan telah menjadi teman setianya. Hampir setiap hari nenek renta itu duduk, terkantuk-kantuk dan bahkan tertidur. Dari pagi sepi sendiri, sore baru bersama anak dan cucu, setelah mereka pulang dari bekerja dan sekolah. Makanan yang telah disiapkan, radio, televisi dan apa pun di depannya tidak menarik perhatiannya. Mau tidur di kamar, apa mau dikata, mata susah dipejamkan. Mau membaca atau menonton televisi, apalah nyana mata sudah kabur dan pendengaran sudah berkurang. Ingin rasanya dia berjalan-jalan, tapi mau ke mana tidak ada yang menemani. Mau jalan sendiri, lutut sudah kaku dan sakit. Satu-satunya hanyalah duduk di teras, samar-samar memandang lalu-lalang orang di jalanan dan menanti mana tahu ada orang yang singgah menemani berbagi cerita menunggu sore.
*)Foto: Seorang nenek yang masih berjuang hidup dengan berjualan gorengan demi anak-anak dan cucu-cucu. Potret ini diambil pertengahan tahun 2010, belakang hari nenek ini sudah tidak terlihat berjualan lagi. Semoga nenek tetap sehat. KOMPAS.com.
*)Foto: Seorang nenek yang masih berjuang hidup dengan berjualan gorengan demi anak-anak dan cucu-cucu. Potret ini diambil pertengahan tahun 2010, belakang hari nenek ini sudah tidak terlihat berjualan lagi. Semoga nenek tetap sehat. KOMPAS.com.
![]() |
| Menkher Manjas |
Namun nenek itu masih beruntung, karena banyak orangtua yang terpaksa harus berjalan memakai kursi roda, terbaring lemah sakit di tempat tidur, tiap sebentar keluar masuk rumah sakit. Ataupun terlunta-lunta, bertahan hidup mengais rezeki di perempatan jalan, mengemis dari rumah ke rumah dan menadahkan tangan di keramaian.
Kodrat fisik manusia, bagaikan sebuah piramida, lahir, berkembang dan mencapai puncak kebugaran rata-rata pada usia 40 tahun. Sesudah itu menurun perlahan layu menuju tua. Ada yang menetapkan umur tua sesudah umur 60 tahun, 65 tahun atau 70 tahun, sedangkan WHO (Badan Kesehatan Dunia) menetapkan usia 65 tahun, seorang dianggap sudah lanjut usia (lansia).
Kemajuan bangsa dan keberhasilan pembangunan, terutama bidang ekonomi dan kesehatan, telah meningkatkan jumlah penduduk umur tua. Sekarang ini, diperkirakan jumlah lansia rata rata sudah 10 persen dari seluruh penduduk. Bahkan di Jepang sudah mencapai 20 persen. Di Indonesia tahun 2010, jumlah lansia 28 juta orang (11,34 persen) dan diperkirakan tahun 2050 sudah mencapai 80 juta orang.
Usia tua, menurut Constantinides, adalah rangkaian proses kemunduran yang perlahan atas ketidakmampuan tubuh untuk memperbaiki jaringan yang rusak agar tetap normal. Kulit menjadi kering dan keriput, rambut memutih dan rontok, penglihatan mengabur, pendengaran dan penciuman berkurang, tulang merapuh sehingga mudah patah dan badan menjadi bungkuk, paru-paru kurang mengembang sehingga napas menjadi pendek, dinding pembuluh darah menebal sehingga banyak menderita tekanan darah tinggi.
Kemunduran dan kerusakan itu, semakin hari semakin nyata. Akibatnya, secara kejiwaan para orangtua akan merasa kesepian, perasa, mudah tersinggung, suka bersedih, rewel dan bahkan bisa berubah seperti kekanak-kanakkan. Dampaknya, lansia akan menghadapi bermacam-macam permasalahan dan rentan terhadap gangguan sosial, ekonomi dan kesehatan. Namun menurut para ahli bahwa keadaan masa tua itu sangat tergantung pada masa muda seseorang. Masa muda yang menjalani syariat agama, berperilaku sehat, ceria, ikhlas dan suka menolong tanpa pamrih akan menjalani masa tua yang bahagia.
"Masa muda yang menjalani syariat agama, berperilaku sehat, ceria, ikhlas dan suka menolong tanpa pamrih akan menjalani masa tua yang bahagia."
Betapa banyak kita lihat para orangtua yang masih berkiprah, masih dimintakan pendapatnya, masih didatangi oleh banyak orang dan masih dengan pikiran yang jernih. Tetapi sebaliknya, jika di waktu muda ketika masih kuat dan berkuasa bagaikan raja yang lupa daratan, haus dan rakus biasanya di hari tua akan merana. Itulah sebabnya, para bijak selalu mengingatkan kita, bahwa masa tua adalah masa panenan apa yang kita tanam di waktu muda. Mungkin berbuah manis, berbuah pahit ataupun hampa belaka.
Seorang Ibu Tua yang sedang mengumpulkan kerikil. Gunung Merapi Jogjakarta. Foto: archiaston
Permasalahan lanjut usia itu harus menjadi perhatian kita semua, baik dari keluarga, masyarakat maupun pemerintah. Kita harus menjadikan lanjut usia sebagai aset bangsa yang harus terus diberdayakan, menjadi sehat, produktif dan mandiri. Bagi keluarga yang mampu, maka permasalahan lansia bukan hal yang berat. Mereka dapat menggaji pembantu yang merawat ataupun menitipkan lansia di panti-panti jompo. Sebaliknya, bagi keluarga yang perekonomiannya kurang mampu, maka banyak lansia yang terabaikan. Mereka dibiarkan terlantar untuk mengurus dirinya sendiri dan lebih ironis lagi, ada lansia yang mendapat perlakuan tidak baik.
Nilai-nilai luhur kemanusiaan dan tuntunan agama apa pun menempatkan lansia sebagai orang yang wajib dihormati, dihargai dan dibahagiakan. Karena itu, baik anak, cucu, keluarga, kerabat, masyarakat ataupun pemerintah haruslah memberikan perhatian, kasih sayang, pelayanan kesejahteraan dan kesehatan, serta menempatkan lansia pada lingkungan yang mengerti dan memahami mereka.
![]() |
| Care |
Nilai luhur dan tuntunan agama juga menjelaskan bagaimana kita harus bersikap pada lansia yang telah uzur. Yang utama tentu harus dipenuhi kebutuhan fisiknya, dikenyangkan perutnya dan dipelihara kesehatannya. Kita harus selalu berlaku sabar. Mereka harus sering ditemani dalam mengobrol, dikunjungi kerabat, sering disapa dan didengar nasihat, keluhan dan cerita cerita masa lalunya walau cerita-cerita itu sudah puluhan kali diulang dan diulang. Karena itulah, monumen peninggalan kisah kejayaan masa lampau yang membekas sampai kapan pun di alam pikirannya. Jangan sekali kali memperlakukan mereka secara kasar baik dalam bentuk ucapan apalagi perlakuan fisik.
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, menjelaskan bahwa peningkatan jumlah dan kesejahteraan lansia menjadi salah satu indikator keberhasilan pembangunan. Demikian juga UUD 1945 pada pasal 28 menetapkan bahwa setiap orang berhak atas jaminan sosial. Dengan demikian, kita semua harus berpartisipasi untuk memungkinkan lansia tetap mengembangkan diri secara utuh sebagai manusia yang bermartabat. Negara telah memfasilitasi wadah tempat berkumpul seperti wadah (karang lansia/karang werda) atau bentuk lainnya. Namun belum begitu berkembang seperti pada negara-negara maju yang jaminan sosial sudah begitu baik, di mana para orangtua selalu dihormati dan diberdayakan.
![]() |
| Lansia di negara maju. |
Mereka diberikan tempat berkumpul khusus di tempat-tempat keramaian, di pusat perbelanjaan, di tempat wisata dan lainnya karena mereka juga butuh rekreasi, silaturahmi dan berelasi sosial dengan kerabat, teman sebaya, sekelompok kegiatan dan masyarakat. Diharapkan mereka tetap bersemangat, berkreasi, berkarya ataupun tetap aktif dalam seluruh kegiatan sosial.
Para lansia berhak menerima kasih sayang, bak kasih sayang yang mereka berikan sewaktu kita masih kecil. Kenapa kini sebagian mereka ada yang sepi dan bahkan terlunta-lunta? Siapa sebenarnya yang salah? Mereka ataukah kita?
Di antara kesepian menanti, nenek tua itu tertidur sendiri di atas kursi teras itu. Tertidur menanti kepulangan anak cucunya, menanti familinya yang akan datang, menanti seseorang yang mau mampir untuk bercerita. Atau mungkinkah diam-diam bersiap-siap menanti waktu untuk pindah ke teras rumahnya yang jauh dan abadi. (Padang Ekspres)
Ironi Kehidupan di Hari Tua

Seorang Pengamen yang sudah renta dan tuna netra, berdendang dengan suara yang lirih dengan ditemani oleh istrinya di pinggir jalan di wilayah Dukuh Kupang, Surabaya. Dalam ke-papa-annya, bapak tua itu telah memberikan bekal yang tidak ternilai di akhir penugasanku selama 4,5 tahun di Surabaya. Foto: Kristo

Ketika sudah tiba waktunya, kapanpun & dimanapun, tak seorang-pun dapat menahan kantuk & tertidur. Foto diambil di Makam Belanda Peneleh, Surabaya. Foto: Kristo


Kakek penjual pisang
![]() | |||||
| Penjual Tahu Dieng |
Kakek Pengayuh Becak
Veteran RI menunggu detik-detik terakhir rumah mereka disita/digusur. lalu mereka mau tinggal dimana?

Veteran RI, masih dengan semangat yang sama... Semangat 45!
Seorang veteran RI yang tidak lebih adalah seorang tua renta dan tidak pernah menuntut apa-apa selain hidup tenang di sisa hayatnya.

Hanya muncul untuk mengisi acara Kemerdekaan 17 Agustus di beberapa stasiun TV, setelah itu? Siapa peduli!??

Hampir 3 juta lansia di Indonesia telantar. Warga lanjut usia (lansia) di Indonesia mencapai 20 juta jiwa, 2,8 juta diantaranya terlantar dan membutuhkan penanganan yang melibatkan tidak saja pemerintah pusat tetapi juga pemerintah daerah, swasta, serta komponen masyarakat lainnya. (http://indonesia.ucanews.com, 30/05/2013)
Tulisan ini didekasikan pada manula yang sepi...❀














0 Response to "Di Kursi Teras Nenek Itu Tertidur"
Posting Komentar